NcHcseayewodC-1QRTk31dmCsu8

Jumat, 30 Juni 2017

Kisah Jenaka KH Hasyim Muzadi (1)

KH Hasyim Muzadi, seorang ulama besar yang dimiliki Indonesia dan warga  Nahdliyin, telah meninggalkan kita untuk selama-selamanya. Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace), Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars), dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Joko Widodo itu dikenal sebagai seorang yang berilmu agama tinggi, berkarakter teguh, namun sangat rendah hati baik dalam bertutur kata maupun berperilaku.

Almarhum dikenal sebagai tipikal kiai yang moderat, toleran, sangat menjunjung tinggi perbedaan keyakinan dan agama yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Pesan-pesan toleransi senantiasa ia suarakan demi terciptanya suasana damai di tengah heterogenitas Indonesia sehingga ia diterima seluruh umat lintasagama.
Beliau juga dikenal sebagai sosok organisator ulung, orator hebat, politikus yang konsisten sekaligus negarawan sejati.
Apakah hanya itu kelebihan personal yang melekat pada sosok KH Hasyim Muzadi? Ternyata tidak. Kiai Hasyim dikenal juga sebagai sosok yang gandrung sekali melontarkan guyonan, candaan, kelakar, senda gurau, humor (jokes) sebagaimana lazimnya kiai-kiai NU.
Tradisi guyonan ala NU
Tradisi guyonan di kalangan warga NU konon telah berlangsung sejak lama. Pencetus berdirinya NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, adalah satu dari sekian banyak ulama yang dikenal memiliki segudang kisah humor.
Tradisi ini semakin mengemuka saat KH Abdurrahman Wahid menjabat Ketua Umum PBNU. Gus Dur –sapaan akrab Presiden ke-3 RI itu— sangat terkenal dan tak diragukan lagi sebagai pemilik sense of humor yang tinggi.
Kiai Hasyim Muzadi juga dikenal piawai dalam mencetuskan guyonan segar, yang membuat orang terpingkal-pingkal mendengarnya. Ia bahkan dianggap sebagai gudangnya guyonan ala NU. Gus Dur sendiri, dalam sebuah kesempatan, mengaku, joke-joke dan anekdot yang sering beliau lontarkan banyak dilahirkan dari pergumulan yang akrab dengan Kiai Hasyim.
Kisah Jenaka Kiai Hasyim
Hari Kamis (23 Maret 2017) malam, saya tiba-tiba langsung teringat, dulu sekali, rasanya pernah memiliki sebuah buku yang berisi kumpulan guyonan Kiai Hasyim. Segera saja, saya obrak-abrik ratusan buku koleksi pribadi yang menumpuk di dalam kamar.
Alhamdulillah, setengah jam kemudian, di tengah keputusasaan, saya sukses menemukan buku itu. Tersembunyi jauh dan dalam tertimbun ratusan buku yang saya miliki, campuran dari buku-buku sejak jaman kuliah dulu hingga kini.
Betapa girang hati saya bisa bersua lagi dengan buku itu.  Serasa menemukan kembali barang berharga yang lama hilang. Saya buka halaman pertama buku berjudul KISAH JENAKA HA HASYIM MUZADI: Indonesia Ha.Ha.Ha itu. Sudah jadi kebiasaaan saya, menuliskan selarik catatan di halaman pertama setiap buku yang saya miliki, entah itu buku yang dibeli di toko buku, di pasar buku loakan, di pameran buku, ataupun buku pemberian orang lain. Catatan itu sengaja saya buat sekadar untuk memantik memori akan sejarah buku tersebut.
Nah, untuk buku humor Kiai Hasyim ini, tertulis begini: “Oleh-oleh dari Munas Alim Ulama dan Konbes NU, Juli 2002”.
Dari catatan kecil itu, terngiang kembali dalam ingatan yang samar-samar, saat itu saya meliput kegiatan Munas Alim Ulama dan Konbes NU yang –kalau tidak salah— berlangsung di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Kiai Hasyim yang kala itu menjabat Ketua Umum PBNU menjadi pembicara di satu dari seabreg acara berskala nasional dan akbar itu.
Semua peserta, dan kalangan wartawan yang meliput, termasuk saya, mendapatkan hadiah dari Kiai Hasyim buku yang disusun oleh Helmi M. Noor dan Abdullah Mufied, dan diterbitkan oleh Kalam Semesta (Jakarta, Juli 2002), itu.
Dalam Sekapur Sirih di buku ini, bertitel “Cara Murah Hidup Gembira”, KH Hasyim Muzadi menjelaskan, fenomena guyonan di kalangan Nahdliyin dipengaruhi dua faktor. Pertama, heterogenitas warga NU. Kedua, komunikasi massa orang NU.
“Ini yang melahirkan dunia humor di NU. NU itu kan real community. Dari yang paling kiai hingga yang paling preman ada di NU. Lapisan-lapisan itu mempunyai habitat dan dunianya masing-masing, sehinga varietas yang yang tinggi itu memungkinkan terjadinya interaksi humor,” jelas Kian Hasyim.
Menurut Kiai Hasyim, guyonan itu sebenarnya multifungsi. Selain untuk menghibur diri sendiri dan keakraban bergaul dengan cerita-cerita iseng yang menyegarkan, juga ada fungsi lain.
Misalnya, guyonan itu untuk menjelaskan sesuatu yang rumit dengan cara yang gampang dan sederhana. Guyonan berfungsi sebagai penjelas dari masalah yang rumit menjadi masalah yang gampang, segar, dan mudah diingat.
“Humor juga berfungsi untuk mengemas kritik menjadi tidak menyakitkan. Kritik yang terlalu menyakitkan justru tidak akan membuahkan kesadaran, melainkan antipati. Kritik yang segar akan lebih kena dan orang tidak akan sakit karenanya, sehingga bisa dan mungkin saja terjadi, orang dicaci tapi ketawa terbahak-bahak,” tulis Kiai Hasyim.
Satu hal lagi, sambung Kiai Hasyim, humor yang keluar dari niat yang bersih dan tulus tidak akan menyinggung orang.
Sementara itu, dalam Kata Pengantar buku ini, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengatakan, kelakar atau humor bukan saja dapat mengendurkan syaraf kita yang tegang, lebih dari itu ia bisa bermanfaat untuk menjembatani kekakuan pergaulan hidup.
Lantaran kelakar atau humor itu universal, ia bisa menjadi kendaraan yang mampu mendekatkan lintasagama, etnis, dan sebagainya.
“Sesuatu yang hingga kini masih menjadi masalah,” tulis Gus Mus.

 Mengingat relatif banyak, saya akan membagikan kepada Pembaca kisah-kisah jenaka KH Hasyim Muzadi yang tercantum di dalam buku ini secara berseri. Silakan ber-ha ha hi hi dengan Kiai Hasyim!
_________________________________
Nyoblos Apa, Cak?
     TETANGGA KH Hasyim Muzadi di Jalan Cengger Ayam 25 Malang ada yang ‘aneh’.
“Ada tetangga dekat saya namanya Cak Lan. Pekerjaannya tukang tambal ban. Orangnya agak ‘nyentrik’,” tutur Cak Hasyim.
Usai Pemilu 1997 lampau,Cak Lan ditanya oleh Cak Hasyim.
“Cak Lan ini waktu Pemilu kemarin nyoblos apa?”
“Nyoblos Golkar, Cak,” jawab Cak Lan.
“Nomornya berapa?” tanya Cak Hasyim lagi.
“Nomor satu,” jawabnya.
Cak Hasyim kaget. “Lho…gambarnya apa?”
Lagi-lagi jawaban Cak Lan aneh. “Banteng, Cak,” jawabnya dengan mimik muka serius.
Cak Hasyim. “…??!”
________________________________
Barokah Al Fatihah
SUATU ketika, IAIN Sunan Ampel (kiniSTAIN) Malang mengadakan ujian komprehensif. Ujian tersebut diikuti para mahasiswa tingkat akhir sebagai syarat untuk meraih gelar sarjana strata 1 (doktorandus/drs).
Di antara para peserta ujian komprehensif itu, tutur KH Hasyim Muzadi, tersebutlah seorang mahasiswa bernama Fulan. Setelah semua persiapan dilakukan, ujian dimulai. Secara bergiliran, peserta mengikuti ujian di sebuah ruangan.
Satu persatu, peserta dipanggil masuk dalam ruangan untuk diuji. Hingga tibalah giliran si Fulan. Setelah dipanggil petugas, dengan beregas ia memasuki ruang ujian dan langsung duduk di kursi yang tepat berada di depan mejapara penguji setelah dipersilahkan.
Tapi, belum lama duduk, mendadak Fulan berdiri dan mendekati Ketua Tim Penguji dan menyalaminya. Kebetulan, Ketua Tim Penguji ini dikenal sebagai seorang kiai. Sambil mencium tangannya, Fulan berucap: “Minta barokah Fatihah, Kiai.”
Ketua Tim Penguji setengah terkejut berucap: “Lho untuk apa?”
Fulan: “Ya…supaya bisa menjawab pertanyaan panjenengan, Kiai.”
Akhirnya, Ketua Tim Penguji yang juga kiai ini mau membacakan surat Al-Fatihah sesuai permintaan si Fulan. Tapi, setelah membacakan surat Al Fatihah, Ketua Tim Penguji ini berpikir keras.
“Ini kalau nanti dia tidak bisa menjawab, berarti Al Fatihah yang saya bacakan enggak mendi (manjur),” gumamnya membatin.
Walhasil, karena kiai yang jadi Ketua Tim Penguji takut Al Fatihahnya dianggap tidak manjur, akhirnya pertanyaan yang diajukan kepada si Fulan terhitung mudah dijawab.
Tak heran, Fulan pun lulus ujian dan berhasil meraih gelar sarjana karena mampu menjawab seuruh pertanyaan tim penguji. Padahal, dalam kesehariannya, si Fulan termasuk mahasiswa yang tingkat intelegensinya biasa-biasa.
__________________________________
Helm Disurbani
ADA seorang kiai sepuh yang tinggal di Kota Malang. Kiai ini hobi dan ahli naik motor. Meski sudah sepuh, ke manapun, kiai ini mengendarai sepeda motor untuk berdakwah. Termasuk khutbah Jumat.
Di suatu Jumat, kiai sepuh ini diminta khutbah di Claket Gang II Malang. “Dari rumahnya ke Claket, beliau ini naik sepeda motor. Karena mau khutbah, mesti pakai surban,” tutur Kiai hasyim Muzadi.
Aturannya, setiap pengendara sepeda motor harus memakai helm. “Nah, setelah surbanan terus pakai helm kan nggak cukup. Akhirnya karena sudah tergesa-gesa, beliau pakai helm dulu baru disurbani. Jadi helmnya dibungkus surban,” lanjut Kiai Hasyim.
Takut surban yang dipakai menutupi helm ini jatuh jika hanya digantung pakai tangan, sehingga kiai ini mengikatnya. “Nggak tahu bagaimana, beliau lewat Jalan Oro-oro Dowo di depannya kantor PLN. Di situ kan ada pos polisi resort kota,” imbuh Kiai Hasyim.
Kontan saja, polisis yang tengah berjaga melihat pengendara sepeda motor yang ‘hanya’ pakai surban itu bernafsu menghentikannya. Kiai tersebut lalu dihentikan polisi.
“Mana helmnya?” tanya polisi.
Tak langsung menjawab, kiai ini membongkar surbannya seraya mengatakan, “lha ini helmnya, Pak.”
Kontan saja, polisi yang menghentikan kiai itu kaget seraya menahan tawa. Karena tidak salah, kiai tersebut disilahkan melanjutkan perjalanan.
“Ya sudah kiai, mohon maaf. Silakan..kiai,” kata polisinya.
 __________________________________
Bagaimana Kalau Tuhan Tertukar..?
KONFLIK antaraumat beragama di Ambon dan daerah-daerah lain di tanah air terasa menyedihkan. Bagi NU, fenomena tersebut terasa menyakitkan. Berbagai upaya dilakukan untuk mempererat persaudaraan antarumat beragama.
“Salah satunya, kita mengambil inisiatif untuk mengadakan doa bersama antarumat beragama,” tutur Kiai Hasyim Muzadi.
Ketika acara tersebut menggunakan judul doa bersama, Kiai Hasyim merasa nantinya akan memunculkan banyak kritik.
Nah untuk mengurangi kritik, temanya diubah menjadi Indonesia Berdoa dan ditempatkan di Senayan,” ungkap Kiai Hasyim.
Acara itu pun belangsung di Gelora Senayan Jakarta pada 5 Agustus 2000. Masing-masing tokoh dari berbagai agama memberikan sambutan untuk menyerukan persatuan dan kesatuan bangsa.
Setelah seluruh tokoh agama tampil, berikutnya adalah masing-masing tokoh agama berdoa. “Tapi donya tidak bareng melainkan bergiliran,” Kiai Hasyim menjelaskan.
Toh, kritik tetap saja ada. Begitu selesai acara dan sampai di Kantor PBNU, Jalan Agus Salim 112 Jakarta, Kiai Hasyim mendapat kritikan pedas dari banyak cabang NU. Salah satunya datang dari NU Cabang Surabaya.
Gimana ini, Ketua PBNU kok berdoa bersama dengan agama-agama lain. Lha nanti kalau Tuhannya tertukar bagaimana?” demikian protes NU Surabaya.
Lalu, Kiai Hasyim menjelaskan duduk perkaranya.
“Tidak ada itu Tuhan bisa tertukar. Karena masing-masing tidak mengamini doa agama yang lain. Tetapi berdoa mengamini doanya masing-masing. Doanya bergilirn tapi memang tempatnya saja yang sama.”

Beredar Video Protes Orangtua Karena Putranya Tidak Lolos Akpol

Sejumlah orang tua peserta calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) memprotes kebijakan Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Anton Charliyan yang menerapkan pemeriksaan kesehatan ulang dan memprioritaskan putra daerah.
Dalam sebuah video yang beredar, terlihat kemarahan para orang tua maupun anaknya yang tidak lolos taruna Akpol. Mereka menuding panitia Polda Jabar tidak transparan dalam meloloskan peserta.
Baca DI SINI beritanya.. 
Menanggapi beredarnya video tersebut di dunia maya, Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul, mengatakan pihak Mabes Polri akan mendalaminya.
“Sampai saat ini memang ada informasi bahwa ada ketidakpuasan masyarakat, tentu ini akan kami dalami, kami pelajari,” kata Martinus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (29/6).
Martinus memastikan, jika memang adanya pelanggaran yang dilakukan panitia seleksi, maka akan ditindaklanjuti. Sementara itu soal adanya kebijakan Kapolda yang diprotes, Martinus mengaku kebijakan soal prioritas putra daerah belum ada.
“Itu belum ada. Belum ada berdasarkan kesukuan,” pungkas Martinus.
Protes sejumlah orang tua tersebut dikarenakan adanya kebijakan Kapolda Jawa Barat yang menerapkan kuota calon taruna Akpol yang dikirim ke Semarang, dibagi menjadi dua, putra daerah dan non putra daerah.
Setelah dirangking, untuk putra daerah dari 13 peserta yang berhasil lolos hanya 12 orang. Sedangkan non putra daerah dari 22 peserta yang lolos untuk mengikuti seleksi tingkat pusat di Akpol Semarang menjadi 11 orang. Selain itu polda Jabar pun meloloskan 4 calon Taruni Akpol (Polwan).

Video Koleksi Distro Anak Negeri